Rabu, 11 Mei 2011

Anggaran Persediaan

MODUL 10
Anggaran Persediaan
Standar Kompetensi
: Mahasiswa dapat mengetahui Anggaran Persediaan
Kompetensi Dasar
: Mahasiswa dapat menjelaskan Anggaran Persediaan
Maksimal
Mahasiswa dapat menjelaskan Persediaan Barang
dalam Proses
Mahasiswa dapat menjelaskan Anggaran Persediaan
Barang Jadi
Pengertian

Anggaran persediaan merupakan anggaran yang merencanakan secara terperinci berapa nilai persediaan pada periode yang akan dating. Pada perusahaan manufaktur persediaan yang ada terdiri dari 3 jenis, yakni persediaan material, persediaan barang setengah jadi dan persediaan barang jadi.
Anggaran Persediaan Material
Dalam anggaran ini yang akan direncanakan adalah berapa nilai persediaan material
untuk setiap akhir periode.
Faktor yang mempengaruhi besar kecilnya nilai persediaan material yakni :
1. Jumlah Materaial yang Tersedia

Semakin besar jumlah material yang tersedia atau yang akn disediakan maka nilai persediaan akan semakin besar. Jumlah material yang akan dijadikan sebagai persediaan bias didasarkan pada kebutuhan material untuk satu bula atau dua bulan.
2. Harga Beli Material per Satuan

Bila material yang ada di gudang dibeli dari beberapa supplier dan pada setiap pembelian harganya berbeda, maka akan timbul permasalahan yakni persediaan yang direncanakan akan dinilai dengan harga yang mana?

Ada 3 metode yang dapat dipilih untuk menyelesaikan permasalah tersebut
yakni :
a. FIFO (First in First Out)

Dalam metode ini diasumsikan bahwa material yang pertama dibeli langsung diproses, bila dari pembelian pertama telah diproses semua maka akan mengambil dari pembelian kedua dan seterusnya. Dengan demikian bila ada persediaan akhir, maka persediaan tersebut berasal dari pembelian terakhir atau persediaan tersebut dinilai dengan harga pada pembelian terakhir.
Misalnya
Persediaan awal (akhir 2002) 5.000 kg
Rp, 1.000,00
Pembelian 1 (tahun 2003) 6.000 kg
Rp. 1.200,00
Pembelian 2 (tahun 2003) 7.000 kg
Rp. 1.250,00
Pembelian 3 (tahun 2003) 6.500 kg
Rp. 1.300,00
Pembelian 4 (tahun 2003) 7.500 kg
Rp. 1.350,00
Persediaan akhir
Maka nilai persediaan akhir menurut metode FIFO sebesar
= 6.000 x Rp. 1.350,00 = Rp. 8.100.000,00
b. LIFO (Last in First Out)

Dalam metode ini diasumsikan bahwa material yang terakhir dibeli langsung diproses, bila dari pembelian terakhir telah diproses semua maka akan mengambil dari pembelian sebelumnya dan seterusnya. Dengan demikian bila ada persediaan akhir maka persediaan tersebut berasal dari pembelian pertama atau persediaan tersebut dinilai dengan harga pada pembelian pertama.
Persediaan awal (akhir 2002) 5.000 kg
Rp, 1.000,00
Pembelian 1 (tahun 2003) 6.000 kg
Rp. 1.200,00
Pembelian 2 (tahun 2003) 7.000 kg
Rp. 1.250,00
Pembelian 3 (tahun 2003) 6.500 kg
Rp. 1.300,00
Pembelian 4 (tahun 2003) 7.500 kg
Rp. 1.350,00
Persediaan akhir = 6.000 kg


Maka nilai persediaan akhir menurut metode FIFO sebesar
5.000 x Rp. 1.000,00
= Rp. 5.000.000,00
1.000 x Rp. 1.200,00
= Rp. 1.200.000,00
= Rp. 6.200.000,00
c. Average
Dalam metode ini persediaan material pada akhir periode akan dinilai
dengan harga rata-rata dari pembelian material.
Misalnya :
Persediaan awal (akhir 2002) 5.000 kg
Rp, 1.000,00
Pembelian tahun 2002
Pembelian 1 : 6.000 kg
Rp. 1.200,00
Pembelian 2 : 7.000 kg
Rp. 1.250,00
Pembelian 3 : 6.500 kg
Rp. 1.300,00
Pembelian 4 : 7.500 kg
Rp. 1.350,00
Persediaan akhir tahun 2003 = 6.000 kg
Maka nilai persediaan akhir menurut metode AVERAGE sebesar :
= 6.000 x
1.000 + 1.200 + 1.250 + 1.300 + 1.350
5
= 6.000 x 1.220
= Rp. 7.320.000,00
Anggaran Persediaan Barang Dalam Proses

Barang dalam proses merupakan material yang telah diproses tetapi belum selesai, sehingga masih memerlukan proses lebih lanjut. Faktor yang mempengaruhi besar- kecilnya nila persediaan barang dalam proses akan tergantung pada :
1. Unit/jumlah Barang dalam Proses
Semakin besar jumlah barang yang masih dalam proses maka nilai
persediaannya akan semakin besar.


2. Tingkat Penyelesaian Produk
Tingkat penyelesaian produk dilihat dari penyelesaian masing-masing
komponen produksi yaitu material, TKL & Overhead pabrik.
3. Tarif Biaya Produksi

Bila tingkat penyelesaian komponen produk tidak sama maka masing-masing unsure biaya tersebut berdasarkan pada tarif-tarif biaya material, tarif biaya TKL dan tarif BOP.
Misalnya pada akhir periode terdapat 1.000 unit barang dalam proses dengan tingkat
penyelesaian sebagai berikut :
- Material : 60 %
- TKL : 40 %
- BOP : 50 %
Sedangkan tarif yang telah ditentukan adalah :
- Material : Rp. 1.200,00
- TKL : Rp. 800,00
- BOP : Rp. 1.000,00
Maka nilai persediaan akhir barang dalam proses diperhitungkan sebagai berikut :
- Material :
1.000 x 60 % x Rp. 1.200,00
= Rp. 720.000,00
- TKL : 1.000 x 40 % x Rp. 800,00
= Rp. 320.000,00
- BOP : 1.000 x 50 % x Rp. 1.000,00
= Rp. 500.000,00
= Rp.1.540.000,00
Anggaran Persediaan Barang Jadi

Persediaan barang jadi diperlukan untuk melayani penjualan yang tidak direncanakan atau penjualan nonreguler. Bila persediaan barang jadi tidak mencukupi maka konsumen kemungkinan akan membeli produk merek lain.
Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya nilai persediaan barang jadi adalah :


1. Unit Persediaan
Besarnya persediaan bias ditentukan berdasarkan rata-rata penjualan per bulan
atau pendekatan yang lain.
2. Metode Penentuan Harga Pokok
Ada dua pendekatan dalam penentuan harga pokok yaitu :
a.
Metode Full Costing

Metode full costing adalah metode penetuan harga pokok produk yang memasukkan semua biaya produksi sebgai komponen haraga pokok produk, yaitu material, tenaga kerja langsung, BOP variable dan BOP tetap.
HPP/unit:
Material/unit
: XX
TKL/unit
: XX
BOP variabel/unit
: XX
BOP tetap/unit
: XX
XX
Misalnya anggaran produksi tahun 2003 sebesar 1.000 unit dengan biaya
produksi sebagai berikut :
Material
: Rp. 5.000.000,00
TKL
: Rp. 6.000.000,00
BOP variabel
: Rp. 7.000.000,00
BOP tetap
: Rp. 2.000.000,00
Rp.20.000.000,00
Sedangkan anggaran penjualan tahun 2003 sebesar 900 unit, sehingga

perkiraan persediaan akhir sebesar 100 unit.
Perhitungan HPP/unit
Material
: Rp. 5.000,00
TKL/unit
: Rp. 6.000,00
BOP variabel
: Rp. 7.000,00
BOP tetap
: Rp. 2.000,00
Rp.20.000,00


Maka nilai persediaan akhir menurut metode full costing sebesar :
Nilai PA = 100 x Rp. 20.000,00
= Rp. 2.000.000,00
b.
Metode Variabel Costing

Metode variable costing adalah metode penentuan harga produk yang memasukkan biaya produksi yang bersifat variabel sebagai komponen harga pokok produk, yaitu material, TKL dan BOP variabel.
HPP/unit:
Material/unit
: XX
TKL/unit
: XX
BOP variabel/unit
: XX
BOP tetap/unit
: XX
XX
Dari contoh diatas bila persediaan akhir 100 unit dinilai dengan metode

variabel costing dihitung sebagai berikut :
HPP/unit:
Material
: Rp. 5.000,00
TKL
: Rp. 6.000,00
BOP variabel
: Rp. 7.000,00
Rp.18.000,00
Nilai PA
= 100 x Rp. 18.000,00
= Rp. 1.800.000,00
Rangkuman

Yang akan direncanakan dalam anggaran persediaan material adalah berapa nilai persediaan material untuk setiap akhir periode. Faktor yang mempengaruhi besar kecilnya nilai persediaan material adalah jumlah material yang tersedia dan harga beli material persatuan. Ada tiga metode yang dapat dipilih untuk menyelesaikan permasalahan tersebut yaitu FIFO, LIFO, dan AVERAGE.



Barang dalam proses merupakan material yang telah diproses tetapi belum selesai sehingga masih memerlukan proses lebih lanjut. Faktor yang mempengaruhi besar kecilnya nilai persediaan barang dalam proses tergantung pada jumlah barang dalam proses, tingkat penyelesaian produk dan tarif biaya produksi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya nilai persediaan barang jadi adalah unit
persediaan dan metode penentuan harga pokok.
LATIHAN
Setiap produk diproses melalui 2 tahap yaitu tahap I dan II. Setelah melalui tahap I rata-
rata tingkat penyelesaian komponen produksi adalah sebagai berikut.
Tingkat penyelesaian produk
Keterangan
Tingkat penyelesaian (%)
Tarif (Rp.)

Material
TKL
BOP

50 60 70

2.000 1.000 3.000
Pada akhir periode sebanyak 1500 unit bahan selesai diproses tetapi baru diproses pada
tahap I.
Berapa nilai persediaan akhir tersebut.
Tes Formatif Modul 10
Pada tahun 2003 anggaran produksi dan anggaran penjualan tidak sama besarnya.
a. Anggaran produksi tahun 2003
TW. I
: 7.500 unit
TW. II
: 7.500 unit
TW. III
: 8.500 unit
TW. IV
: 6.500 unit
30.000 unit


b. Anggaran penjualan tahun 2003
TW. I
: 6.000 unit
TW. II
: 6.000 unit
TW. III
: 8.000 unit
TW. IV
: 8.000 unit
28.000 unit
c. Biaya produksi tahun 2003
Material
: Rp. 60.000.000,00
TKL/unit
: Rp. 30.000.000,00
BOP variabel
: Rp. 45.000.000,00
BOP tetap
: Rp. 15.000.000,00
Rp.150.000.000,00
Berapa nilai persediaan barang jadi pada akhir tahun 2003 ?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar